Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, tak ada yang istimewa. Kuawali pagi dengan membereskan beberapa berkas yang terserak di meja kerjaku. Kelelahan semalam membuatku tak lagi punya kekuatan, bahkan untuk sekedar merapihkan isi kamar. Kubiarkan selimut terjuntai ke lantai. Cangkir kopi dengan ampas yang mengerak di dalamnya masih ada di ujung meja kerja. Belum lagi asbak penuh puntung rokok dan abu yang berserakan disekitarnya. Entah mengapa aku tak punya keahlian dalam hal berbenah. Mungkin keahlianku hanya satu, menulis surat untukmu. Seperti saat ini. Selalu di tempat ini.
Kau tahu halaman belakang rumah kita tak terlalu besar. Namun aku nyaman menghabiskan waktu berjam-jam disini. Apalagi saat pekerjaan seperti tak punya pengertian, sungguh hanya tempat ini yang layak dijadikan pelarian. Dan menulis surat untukmu, selalu jadi kebiasaan yang tak pernah terlewatkan.
Sudah tiga tahun delapan bulan tak kulihat wajahmu. Seribu tiga ratus tiga puluh delapan hari kita jalan sendiri-sendiri. Sebanyak itulah surat yang kutulis untukmu. Aku rasa kau cukup mengenalku. Lebih mudah bagiku mengungkapkan perasaan melalui tulisan. Ya, aku tak pandai menggunakan lidahku untuk berkata-kata. Aku hanya berharap semoga surat-suratku cukup detail mengungkapkan makna cinta.
“Apa kabarmu, sayang?”
Pertanyaan ini. Sederhana. Tapi sadarkah kau aku menanyakannya dengan sepenuh jiwa? Aku sungguh ingin tahu kabarmu. Menerka-nerka itu tak menyenangkan. Dan khawatir itu sungguh menyesakkan.
Aku mengharapkan balasan suratmu. Tidak, aku tak meminta kau membalasnya dengan rayuan cinta atau kalimat berbunga-bunga. Cukup kau yakinkan aku bahwa dirimu baik-baik saja. Disana. Tanpaku.
Aku mengharapkan balasan suratmu. Tidak, aku tak meminta kau membalasnya dengan rayuan cinta atau kalimat berbunga-bunga. Cukup kau yakinkan aku bahwa dirimu baik-baik saja. Disana. Tanpaku.
Sudahkah kau baca suratku hari ini?
Aku mengirimkannya lewat paket kilat. Bayangkan, Tuhan sendiri yang jadi perantaranya. Aku percaya Ia tak mungkin berkhianat. Jadi kupastikan surat untukmu sampai dengan selamat, ke tempatmu, yang kusebut, akhirat.
Aku mengirimkannya lewat paket kilat. Bayangkan, Tuhan sendiri yang jadi perantaranya. Aku percaya Ia tak mungkin berkhianat. Jadi kupastikan surat untukmu sampai dengan selamat, ke tempatmu, yang kusebut, akhirat.
Menjalani hidup tanpamu, bukanlah perkara mudah buatku. Kau tahu rasanya jika rindu datang menyerang? Aku lebih baik disiksa hingga gila daripada harus menahan rindu yang tak mampu kusampaikan. Ditambah rangkaian kenangan yang tak mungkin kuabaikan. Mereka perpaduan maha dahsyat untuk meracuniku! Jika aku telah berada di batas sekarat, doa menjadi penawar paling mujarab. Berbincang dengan Tuhan, tak ubahnya berbincang dengan dirimu. Setidaknya sedikit rinduku terobati. Sedikit.
Apakah kau baca suratku hari ini?
Semoga kau tak bosan memahami tiap huruf yang kurangkai dengan spasi dan tanda baca. Hanya itu caraku mengungkapkan rasa. Balaslah jika kau sempat. Tak perlu berwujud surat. Pastikan saja kau selalu dekat, walau tak lagi nyata.
Semoga kau tak bosan memahami tiap huruf yang kurangkai dengan spasi dan tanda baca. Hanya itu caraku mengungkapkan rasa. Balaslah jika kau sempat. Tak perlu berwujud surat. Pastikan saja kau selalu dekat, walau tak lagi nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar